Kupang, Kompas – Setelah kasus gizi buruk dan busung lapar yang menimpa anak berusia di bawah lima tahun di Nusa Tenggara Barat muncul ke permukaan, terakhir diketahui bahwa kondisi di Nusa Tenggara Timur ternyata lebih memprihatinkan. Menurut catatan Dinas Kesehatan NTT, di provinsi itu anak yang mengalami gangguan gizi buruk akut dan kronis hingga busung lapar mencapai 66.685 orang.
Pemerintah menyatakan, hingga 5 Juni 2005 di NTB tercatat sebanyak 655 anak balita mengalami kekurangan gizi atau gizi buruk. Jumlah itu belum termasuk 13 anak yang telah meninggal akibat gizi buruk dan oleh pemerintah sekarang dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk.
Jumlah anak yang mengalami gizi buruk ini dibandingkan dengan tahun lalu tercatat masih lebih kecil. Pada tahun lalu gizi buruk yang terjadi di provinsi yang dikenal sebagai lumbung padi itu mencapai 1.500 anak. Jumlah anak yang tahun ini mengalami gizi buruk diperkirakan bisa lebih besar lagi jika survei yang dilakukan Departemen Kesehatan dan pihak dinas kesehatan daerah dilakukan lebih menyeluruh.
Demikian disebutkan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam keterangan pers seusai rapat khusus mengenai penanganan busung lapar dan gizi buruk yang melanda provinsi NTB dan provinsi lainnya, Senin (6/6) di Istana Wakil Presiden (Wapres). Rapat yang dipimpin oleh Wapres Jusuf Kalla itu juga dihadiri Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab dan Gubernur NTB Lalu Serinata.
Kekurangan makanan
Kepala Dinas Kesehatan NTT Stef Bria Seran kemarin di Kupang menjelaskan, dari 463.370 anak balita di provinsi itu, 66.685 orang di antaranya mengalami gangguan gizi. Rinciannya, anak yang mengalami kurang gizi 55.543 orang, gizi buruk 11.015 orang, marasmus 122 orang, dan yang menderita kwasiorkor lima orang.
“Seorang anak balita berusia 14 bulan di salah satu desa di Sumba Timur telah meninggal karena busung lapar atau marasmus kwasiorkor,” ungkap Stef didamping dua stafnya.
Stef tak keberatan kalau publik mengategorikan kasus marasmus dan kwasiorkor sebagai busung lapar. Alasannya, marasmus (kekurangan karbohidrat) maupun kwasiorkor (kekurangan protein), dan marasmus kwasiorkor sama-sama diakibatkan kekurangan makanan.
Jumlah anak yang mengalami gangguan akibat kekurangan gizi itu meningkat jika melihat data per 31 Mei 2005. Saat itu, dari 463.370 anak balita di NTT, 52.593 anak di antaranya mengalami gangguan kurang gizi dan gizi buruk, 53 orang sudah pada taraf marasmus, dan satu orang kwasiorkor.
Dari data tersebut diketahui, kasus busung lapar (termasuk marasmus, kwasiorkor) meningkat dari 54 orang (53 anak marasmus, satu kwasiorkor) menjadi 127 orang (122 marasmus dan lima kwasiorkor).
Menurut Stef, terus bertambahnya kasus gizi buruk tersebut diakibatkan tidak beresnya persediaan makanan yang mengandung karbohidrat dan protein. “Anak yang menderita gangguan gizi itu akan semakin buruk (kondisinya-Red) jika tidak segera diantisipasi oleh pemerintah,” ujarnya.
Makin buruknya kondisi anak balita penderita kurang gizi hingga busung lapar juga akibat tidak maksimalnya pelayanan di posyandu. Menurut Stef, dari 2.166 posyandu di NTT, saat ini yang beroperasi hanya 40 persen. Ia yakin, jika seluruh posyandu bekerja maksimal, penemuan anak balita penderita gizi buruk akan lebih banyak.
Dari Mataram, NTB, dilaporkan, sampai kemarin jumlah penderita gizi buruk dan busung lapar di wilayah tersebut terus bertambah. Di Rumah Sakit Umum Mataram selama Januari hingga 6 Juni dirawat 70 penderita atau naik dari 28 kasus dibandingkan dengan data tahun 2004. Dari 70 orang tersebut, tinggal delapan orang yang dirawat inap, tujuh anak balita meninggal, dan 17 anak dibawa pulang paksa orangtua mereka.
Bermunculan
Kasus anak balita gizi buruk juga terus bermunculan di sejumlah daerah lain. Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali dr Syamsudin MKes mengungkapkan, selama tiga bulan terakhir tahun 2005 di wilayah Boyolali, Jawa Tengah, ditemukan 425 anak balita penderita gizi buruk. Padahal, tahun 2004 di wilayah itu hanya ditemukan 175 anak balita penderita gizi buruk.
Dari Makassar, Sulawesi Selatan, dilaporkan, dalam sepekan terakhir di kota itu ditemukan sembilan anak balita penderita gizi buruk yang memerlukan penanganan secepatnya.
Ketua Palang Merah Indonesia Mar’ie Muhammad di Jakarta kemarin mengemukakan, penanganan kasus busung lapar di NTB dan daerah lain harus menjadi komitmen bersama dan melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah, secara berkelanjutan. Tanpa langkah nyata, kasus busung lapar akan terus terjadi di berbagai daerah di Tanah Air. (CAL/RUL/har/EKI/REI/NEL/IRN/EVY)
SUMBER :
https://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/07/utama/1797487.htm